Tidak diketahui persis kapan tepatnya bangsa ini menjadi bangsa yang mudah menyimpulkan sesuatu tanpa analisa yang serius sebelumnya. Sangat mudah sekali kita temukan misalnya orang merelasikan bahwa gempa di Palu disebabkan masyarakatnya melakukan bid’ah atau maksiat. Atau mengatakan bahwa semua bencana yang terjadi di Indonesia ini akibat dari Presidennya adalah si A, atau gempa Lombok akibat Gubernur A mendukung calon Presiden A.

Kondisi demikian salah satunya disumbang oleh revolusi industri 4.0 yang menyediakan kecepatan menyampaikan dan sekaligus mendapatkan informasi. Fakta bisa menjadi kabur dan bias dihadapkan pada gelombang besar arus informasi. Khalayak tidak sempat lagi menyediakan waktu berpikir mendalami informasi. Parahnya, Indonesia merupakan negara yang masuk katagori rendah atas literasi. Sehingga kemampuan untuk menalar secara kritis atas informasi tersumbat karena habitus yang mengedepankan narasi visual ketimbang literer.

Pesantren memiliki tradisi yang kuat atas literasi dan berpikir logis. Hal ini dibuktikan atas adanya fan manthiq yang menjadi salah satu ilmu tingkat tinggi yang perlu dikuasai oleh para santri. Namun demikian gelombang keras informasi digital menimpa komunitas pesantren, apalagi pada masa politik sekarang ini. Berbagai meme, pesan WA, media sosial dsb menikam pula ke komunitas pesantren. Dampaknya terasa ketika persoalan politik kekuasaan membutuhkan pesantren dan komunitasnya menjadi sasaran antara dan akhir atas informasi tertentu.

Atas dasar itulah, maka diperlukan adanya penggalian data dan informasi yang terkait dengan model, tujuan dan dampak pengajaran logika secara umum dan manthiq secara khusus di pesantren untuk memahami situasi yang terjadi dengan pendekatan yang lebih khusus. Komunitas pesantren yang terbukti exist secara tradisi dan pembacaan terakhir atas perkembangan informasi perlu dianalisa lebih jauh yang bertujuan mencari jalan keluar dan memperkuat literasi dalam khalayak.

Para Peserta Ngaji Teknologi dari berbagai pesantren di Kabupaten dan Kota Sukabumi sedang Khidmat mengikuti paparan para Narasumber

Sadar akan hal tersebut, Kementrian Komunikasi dan Informatika (KEMKOMINFO) RI, bekerjasama dengan Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (LAKPESDAM) PBNU dan Lembaga Ta’mir Masjid (LTM) PBNU, menggelar kegiatan “Ngaji Teknologi” bertajuk “Ngaji Mantiq untuk Penguatan Literasi Publik” di Pondok Pesantren Salafy Al-Fathonah Pasirmalang Kebonmanggu Gunungguruh Kab. Sukabumi Jawa Barat belum lama ini. (08.04.2019)

Dalam Sambutannya Wakil Ketua LAKPESDAM PBNU, Ust. Idris, menyampaikan bahwa diantara tujuan dari kegiatan ini adalah mendayagunakan dan menggali potensi santri dan pesantren dalam khasanah keilmuan mantiq sehingga terbentuk komunitas-komunitas mantiq di masyarakat, agar mampu mengembangkan dan menuangkan buah pikirnya berdasar pemahaman mantiq yang dimiliki dalam bentuk digital. Disamping itu komunitas diharapkan menjadi agen perubahan melalui nalar fikir berdasarkan ilmu mantiq yang dimiliki terlebih di era digital dan informasi yang sulit terbendung seperti melalui dunia maya tertutama media sosial. “kami berharap dari ngaji teknologi ini tercapai tujuan kegiatan yang mampu mendorong terbentuknya pribadi-pribadi yang kritis dan menjadi penyeimbang dalam jagad maya saat ini”. Tegasnya.

Sementara itu, dalam kegiatan yang dihadiri tidak kurang dari 20 Pesantren dari kota dan Kab. Sukabumi ini, Perwakilan Pondok Pesantren Salafy Al-Fathonah, Ust. Daden Sukendar, dalam sambutannya menyampaikan terimakasih kepada Kemkominfo dan LAKPESDAM serta LTM PBNU yang telah memberikan kepercayaan kepada Ponpes. Salafy Al-Fathonah sebagai tempat pelaksanaan Kegiatan tersebut. “Sy mewakili keluarga besar Ponpest. Al-Fathonah menghaturkan banyak terimakasih atas kepercayaan Kemkominfo, LAKPESDAM dan LTM PBNU yang menjadikan pesantren kami menjadi tempat ngaji teknoligi saat ini, semoga ini semua membawa berkah bagi kita semua” pungkasnya.

 

Tanggapan Pembaca

Tanggapan