para pejuang berhijab forum pemuda lintas iman sukabumi

Apa yang orang pikirkan saat melihat beberapa perempuan berhijab masuk halaman gereja? Ada di antaranya pasti yang berpandangan negatif seketika kala melihat beberapa perempuan berhijab yang ‘hobi’ keluar masuk tempat ibadah orang dan bicara lantang soal keberagaman atau kebhinnekaan.

Di sebagaian besar daerah rawan konflik dan isu intoleransi, gerakan-gerakan sederhana bisa menjadi gesekan tertentu terhadap isu ini. Sebetulnya bukanlah suatu ketabuan lagi hari ini, namun mereka yang gigh ini lebih sering ditatap aneh bagi kebanyakan orang saat mereka melihatnya langsung. Banyak yang memandang sinis, berpikiran buruk sampai ada kata caci dan maki yang entah terselip dalam hati atau jelas tersampaikan lewat lisannya.

Yang lebih aneh lagi, para perempuan berhijab ini tampak senang kala sibuk mengurusi hak orang lain dibanding mengurus dirinya sendiri. Bagi mereka menyebar damai dengan saling mengeratkan ikatan dan jaringan kebersamaan dalam kebhinnekaan sebagai sesama manusia Indonesia yang beradab adalah sumber kebahagiaan lain yang tak ternilai. Bagaimanapun juga kebhinnekaan kita adalah salah satu investasi penting bagi masa depan bangsa. Kata pahit apapun insha Allah sudah legowo mereka dengar setiap beraksi dalam isu.

“Entah kenapa, ada kebahagiaan tersendiri saat bisa bantu orang lain seperti ini.” tutur Mia Andini Septiani, salah satu dari sekian perempuan berhijab itu, “Islam ‘kan agama yang damai.”

Kebahagiaan yang mereka rasakan menimbulkan berbagai reaksi dari orang di sekitar mereka. Ada yang mengejek “liberal, sekuler dan pasti sudah murtad,” ada yang bertanya, “sudah pindah agamakah?” namun ada juga yang mengapresiasi itu sebagai bagian dari ajaran Islam yang dewasa ini patut ditunjukkan.

Para perempuan ini serasa sudah kebal dengan kalimat dan sindiran apapun dari mulut orang. Toh dipertanyakan ke-Islaman-annya bukan sebuah tanya aneh pertama yang mereka dengar dari orang, dituduh Ahmadiyahisasi, Syiahisasi atau Kristenisasi saja sudah. Mereka sadar aktivitas mereka berkunjung dari satu tempat ibadah ke tempat ibadah lainnya mengandung resiko tertentu.

Namun keyakinan mereka terhadap Islam sendirilah yang semakin menguatkan diri bahwa ada banyak cara menyatakan Islam adalah agama damai dengan slogan Rahmatan lil’alamiin-nya, bukanlah isapan jempol belaka. Salah satunya dengan berkunjung sambil berpesan secara tersirat bahwa kebaikan dan kebenaran bukan nilai mutlak yang ditentukan manusia, melainkan Tuhan. Masalah benar-salah selalu menjadi relativitas sengit manusia yang seharusnya saling menghargai, menjaga dan melindungi sebagai kesatuan dalam kemanusiaan dan kebangsaan.

Sejarah mencatat ada banyak nama wanita yang berani beda menunjukkan bakti dirinya bagi orang lain. Sebut saja RA. Kartini, Raden Dewi Sartika atau yang lebih kekinian seperti Asfinawati atau juga yang selalu nyentrik Menteri Perikanan dan Kelautan kita, Susi Pudjiastuti dan Bu Sinta Nuriyah Wahid. Di samping beberapa sosok tersebut, dalam sejarahnya Islam juga mencatat beberapa nama perempuan hebat yang berjasa bukan hanya untuk Islam tapi juga bagi dunia, seperti Siti Aisyah dan Fatima Zahra. Mereka menyatakan dengan aksinya bahwa perempuan bisa berperan dan berhak ikut serta membuat perubahan di kehidupan masyarakat umum.

Dalam konteks keberagamaan, berdasarkan pengamatan dari para aktivis di beberapa daerah konflik, perempuan justru menjadi sosok penting di balik tercapainya sebuah perdamaian. Misal konflik di Poso adalah salah satunya. Perempuan memiliki magisnya sendiri kala bersentuhan dengan giat keberagaman dan perdamaian dalam berbagai aspek. Mereka adalah korban sebenarnya dari sebuah konflik, namun mereka tak hanya diam dan melihat, justru merekalah yang maju terdepan menjadi tameng pelindung generasi manusia selanjutnya.

Kembali lagi menengok ke dalam Islam sendiri, agama ini mengakui telah menempatkan perempuan di tempat terhormat dan menyatakan dengan jelas bahwa baik laki-laki atau perempuan semuanya setara. Tak ada ukuran yang menempatkan seseorang lebih tinggi dari yang lainnya di mata Tuhan selain keimanan dan ketakwaannya, di samping Islam juga mengajarkan cinta-kasih kepada sesama. Lantas, kenapa harus berprasangka?

Gambaran kecil ini ada dari sekian banyak perempuan yang memperjuangkan hak asasi manusia yang sering disalahartikan. Mereka sadar eksistensi perempuan tidak hanya sebatas duduk manis mengikuti alur kisah yang sudah dijalankan orang lain, melainkan mereka juga bisa ikut berperan penting mengubah nilai sebuah masyarakat yang maju menuju kemunduran menjadi bergerak positif menuju optimisme dan masa depan gemilang yang bukan sekedar asumsi pendeknya sumbu berpikir manusia. Perempuan hari ini mampu menunjukkan bahwa untaian kata Kartini di dalam bukunya bukan sekedar menjadi bunga tidur, tapi kerja nyata mewujudkan cita-cita dan harapan perdamaian dunia yang diidam-idamkan semua orang.

Jadi, kelak saat ada beberapa perempuan berhijab keluar masuk Gereja, Vihara, Klenteng atau tempat ibadah lainnya jangan kaget lagi, mereka hanya ingin menyampaikan pesan damai Islam. Mereka datang bukan untuk ‘sok’ unjuk gigi, tapi ingin belajar lebih merendah lagi di hadapan Yang Kuasa bahwa dunia tak sebatas milik mereka melainkan milik semua makhluk-Nya yang selalu Dia penuhi dengan berkat serta kasih-Nya.

Oleh : Siddika Tahir

Tanggapan Pembaca

Tanggapan