Berbicara tentang Indonesia sudah lekat rasanya dengan Keragaman. Karena sangat perlu kita ketahui bahwa di Negara kita tercinta (Indonesia) sebuah Keragaman adalah Fakta dan konsekuensinya adalah menjadi orang Indonesia harus siap berbeda dan harus siap juga menghargai semua kondisi yang ada.

Lalu realita yang ada seperti apa? Ya Indonesia punya cerita dan cerita kadang tidak sesuai fakta yang ada. Memahami bahwa Indonesia itu beragam sudah pasti anda menjadi orang yang toleran dan perlu di ingat bahwa toleransi itu harus ada pada diri orang Indonesia.

Disamping realita bahwa banyak dampak positif yang bisa kita dapatan dari Teknologi begitu juga dengan dampak sebaliknya atau sisi lain dari Teknologi itu sendiri.

Kita tidak bisa memungkiri dan menghalau perkembangan dan kemajuan zaman, terutama kemajuan Teknologi. Terlebih lagi Teknologi Informasi dan Komunikasi yang saat ini berhasil melahirkan puluhan, ratusan dan bahkan ribuan Aplikasi atau layanan social media. Namun, hal ini lah yang sebenarnya menjadi penghambat dan sekaligus mengganggu sikap toleran masyarakat Indoensia.

Contoh kecilnya, sebuah kata yang sudah tidak asing lagi di telinga orang-orang Indoensia akhir-akhir ini yaitu “Hoax”. So, semua tahu Hoax sehingga tidak perlu kiranya saya bahas disini. Yang perlu kita sadari bahwa kata hoax ini lahir dari segala bentuk kemajuan teknologi yang dalam hal ini berwujud “Sosial Media”.

Meskipun perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi tidak hanya mentok pada menjamurnya social media saja. Namun, realita yang ada social media adalah yang menemani kita setiap hari, bahkan lebih dekat daripada orang-orang terdekat kita. Sehingga bisa saya simpulkan titik beratnya ada pada bagian ini.

Sekali lagi bahwa fakta-fakta ini tidak bisa kita pungkiri dan benar-benar kita rasakan bahwa Teknologi itu mengganggu kesadaran Tolerasi Indoensia. Lalu apakah bisa kita simpukan bahwa intoleran ini terjadi karena teknologi yang terus berkembang? Tentunya tidak.

Tulisan saya tidak menuju kearah sana, namun lebih pada mencari solusi yang solutif guna memperbaiki keadaan ini. Jika anda masih bertanya keadaan yang mana? Mari saya jabarkan lebih lanjut.

Kita menjadi saling Curiga

Tidak terbendungnya informasi yang sangat mudah kita dapatkan menjadi salahsatu faktor penting yang bisa menimbulkan kegaduhan. Tentunya hal ini tidak mengalir begitu saja terjadi. Logika sederhana yang bisa kita cerna untuk mencari penyebab hal ini adalah bahwa Teknlogi (seperti social media) lahir lebih dahulu dibandingkan dengan kesadaran pentingnya saling menghargai (toleransi). Jika hal ini sudah terjadi, perlu solusi yang cermat juga tanggap. Karena jika dilakukan pembiaran, maka penyakit intoleransi akan semakin akut di negeri kita Indonesia.

Solusi yang bisa kita lakukan tentunya banyak sekali, tergantung pada posisi apa kita berdiri (profesi) dan atau mungkin kepantingan apa yang kita miliki. Sebagai contoh, kalangan akademisi juga amat sangat memiliki peran penting, menyangkut tujuan dan fungsi mereka di negara ini. Mereka bisa lebih sering memberikan Pendidikan dalam bentuk apapun, seperti penyuluhan, pembuatan meme dan lain-lain, yang tentunya dimulai dari lingkungan masing-masing.

Guru misalanya, mereka memiliki pengaruh besar didepan para peserta didiknya. Hal ini bisa dijadikan sebuah jalan yang sangat efektif untuk mendidik tunas-tunas bangsa sejak dini saat mereka duduk dibangku sekolah. Guru diharapkan tidak bosan-bosan untuk memberikan pemahaman, misalnya tentang Budaya baik dan bijak dalam penggunaan social media dan lain-lain.

Kenapa Dampak Negatif lebih mendominasi?

Sebenarnya pertanyaan itu jawabannya sederhana. Pertama, sekali lagi karena cepatnya perkembangan Teknologi ini. Yang kedua, lebih spesifiknya yang terjadi di negara kita atau bahkan mungkin di setiap negara adalah Teknologi lahir lebih dahulu daripada aturan perundang-udangan yang mengatur penggunaan Teknologi itu sendiri.

Kesimpulan

Pribadi kita masing-masing, memiliki peran yang sangat penting agar Indonesia nyaman, Indonesia Damai dan Indonesia bebas dari Intoleran. So, teknologi bukan segalanya namun dia harus tetap ada dan berkembang sesuai dengan kebutuhan atau mungkin keinginan.

Sebagai penutup segalai lagi saya kutip, bahwa di Indoensia Keragaman adalah Fakta, beda pendapat adalah biasa dan saling menghargai itu harus. Salam dan Terima Kasih.

Baca Juga : Ketika Istigfar mendekatkan Jodoh

Tanggapan Pembaca

Tanggapan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.